Selasa, 16 Januari 2018

SUNAN GISIK


Sayyid Ali Murtadho "Sunan Gisik" atau lebih dikenal Raden Santri merupakan kakak kandung Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Beliau merupakan putra Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan (Putri Raja Campa). Beliau juga merupakan keponakan Dewi Dwarawati (Ratu Majapahit) yang merupakan istri Prabu Brawijaya.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sayyid Ali Murtadho melakukan perjalanan dakwah ke tanah Jawa bersama ayah dan adiknya. Sebagaimana disebutkan diatas, ayah Sayyid Ali Murtadho adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan adiknya bernama Sayyid Ali Rahmatullah. Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di Tuban dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Akan tetapi, tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.

Selanjutnya Sayyid Ali Murtadho meneruskan perjalanannya, beliau berdakwah keliling ke daerah Madura disini beliau mendapat sebutan "Sunan Lembayung". Beliau juga berdakwah di Nusa Tenggara hingga ke Bima, disana beliau mendapat sebutan Raja Pandhita Bima. Banyak diantara keturunan beliau menjadi penyebar agama Islam dan juga raja baik di Madura maupun di Nusa Tenggara. Dalam rantai silsilah Raja Bima yang tercantum dalam Bo’ sangaji Kai, beserta penjelasan-penjelasannya, kita akan dibuat sedikit terkejut dengan munculnya nama-nama dan istilah islam yang disebutkan. Hal ini dapat dijumpai pada kepemimpinan Rumata Mawa’a Bilmana. Jadi sebelum Abdul Kahir I, kerajaan Bima pernah dipimpin oleh seorang Raja Muslim, yakni Sayyid Ali Murtadho sendiri. Nama beliau kurang terekam secara maknawiyah dalam dialek Bima saat itu, karena catatan mengenai beliau justru ada dalam riwayat resmi keturunan para walisongo. Dalam catatan sejarah menjelaskan bahwa beliau merupakan penyebar agama Islam pertama di Nusa Tenggara Barat yang kelak menjadi pondasi cikal bakal kerajaan Bima yang bernafaskan Islam “Ahlussunah wal Jama’ah”.

Setelah berhasil mengIslamkan daerah Madura dan Nusa Tenggara yang masyarakatnya semula kental suasana Budha dan Hindhu, Sayyid Ali Murtadho diminta kembali ke Gresik. Pada 9 April 1419 Syekh Maulana Malik Ibrahim Wafat, beliau menggatikan peran Syekh Maulana Malik Ibrahim sebagai imam penyebaran Islam di Gresik. Beliau berdakwah di Gresik mendapat beberapa sebutan yakni “Raja Pandhita Wunut” serta sebutan yang sangat melekat dan banyak dikenal masyarakat adalah “Raden Santri” dan Sunan Gisik”.

Sunan Gisik” menikah dengan Rara Siti Taltun atau RA. Madu Retno binti Aryo Baribin dan mempunyai 4 anak bernama Usman Haji (Sunan Ngudung) , Haji Usman, Nyai Gede Tundo, dan Ali Musytar. selanjutnya Usman Haji setelah dewasa meminang putri Tumenggung Wilwatikta dan mempunyai anak bernama Amir Haji atau Dja’far Sodiq atau (Sunan Kudus), dan Dewi Sujinah. Haji Usman menikah dengan Siti Syari’at mempunyai anak bernama Amir Hasan (Sunan Manyuran). Sedangkan Nyai Gede Tundo menikah dengan Kholifah Husain (Sunan Kertoyoso) mempunyai anak Kholifah Suhuroh. Selain Rara Siti Taltun, Raden Santri juga menikah dengan Dyah Retno Maningjum Binti Arya Tejo.

Sunan Gisik wafat pada tahun 1317 Saka / 1449 M atau bertepatan dengan 15 Muharam abad ke-8 Hijriyah. Haul beliau diperingati setiap tanggal 15 Muharram. Beliau dimakamkan di desa Bedilan, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Makam beliau hanya berjarak 100 M utara Alon-alon Gresik, atau hanya berjarak 200 M utara makam Syekh Maulana Malik Ibrahim.
SILSILAH  “SUNAN GISIK”

1.            Sayyid Ali Murtadho “SUNAN GISIK” bin
2.            Maulana Ibrahim Asmarakandi bin
3.            Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Khan bin
4.            Ahmad Jalaludin Khan bin
5.            Abdullah Khan bin
6.            Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
7.            Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
8.            Muhammad Sohibul Mirbath (Hadhramaut)
9.            Ali Kholi' Qosam bin
10.         Alawi Ats-Tsani bin
11.         Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
12.         Alawi Awwal bin
13.         Ubaidillah bin
14.         Ahmad al-Muhajir bin
15.         Isa Ar-Rumi bin
16.         Muhammad An-Naqib bin
17.         Ali Uraidhi bin
18.         Ja'far ash-Shadiq bin
19.         Muhammad al-Baqir bin
20.         Ali Zainal Abidin bin
21.         Imam Husain bin
22.         Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra bin

23.         NABI MUHAMMAD SAW

SAYYIDAH SITI ZAINAB GRESIK


Desa Sidorukun merupakan salah satu Desa di Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Istilah Sidorukun sendiri berasal dari gabungan beberapa dusun  diantaranya Dusun Keradenan (Kreejenan) yang berarti tempat para raden atau keturunan dari tokoh terpandang, Dusun Lebak (Langon),  Dusun Sidodadi (Mambung), dan Dusun Perdikan Kramat Andap.Kawasan Sidorukun  sendiri merupakan salah satu sebuah kompleks pemukiman bersejarah, hal ini tidak terlepas ditemukannya beberapa bukti makam kuno yang tersebar di Desa tersebut. Menurut legenda masyarakat setempat, kompleks makam kuno yang terdiri dari tiga makam adalah Makam Mbah Haji Agung.

Berdasarkan cerita turun temurun, Mbah Haji Agung adalah paman Sunan Giri. Beliau dimakamkan berdampingan dengan isteri beliau yakni Sayyidah Siti Zainab beserta cantriknya yang dikenal sebagai Mbah Buyut Payung.

Menurut buku Sabdo Palon, Mbah Haji Agung bernama asli Syaikh Zainal Malik. Beliau adalah seorang ulama sekaligus putra kerajaan dari negeri Champa yang menikah dengan Sayyidah Siti Zainab binti Syaikh Ibrahim Asmaraqandi (Tuban). Sayyidah Siti Zainab merupakan keturunan Rasulullah SAW ke-22 dan merupakan saudara tiri dari Syaikh Maulana Ishaq (Ayahanda Sunan Giri). Hubungan kekerabatan keponakan dan bibi antara Sunan Giri dan Sayyidah Siti Zainab yang nantinya menisbatkan Syaikh Zainal Malik sebagai paman Sunan Giri.

Dijelaskan pula dalam buku Sabdo Palon dan buku Atlas Wali Songo, bahwa Sayyidah Siti Zainab memiliki saudara kandung yakni Sayyid Ali Murtadlo (Sunan Gisik / Raden Santri) dan Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel / Raden Rahmat). Sedangkan Syaikh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri) adalah saudara tiri dari ibu yang berbeda.
Berdasarkan penjelasan buku Sabdo Palon, Syaikh Zainal Malik dan Siti Zainab beserta para pengikutnya memutuskan hijrah menyelamatkan diri ke tanah Jawa setelah kerajaan Islam Kauthara di Champa mendapatkan serangan dari kerajaan Budha Kambojapura. Beliau berniat menyusul saudara dan ayahnya yang lebih dahulu berdakwah menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Setelah setibanya di tanah Jawa beliau menetap di daerah Sidorukun dengan menyebarkan agama Islam hingga akhir hayat.
Sayyidah Siti Zainab adalah putri Syaikh Ibrahim Asmaraqandi, beliau adalah adik kandung dari Sayyid Ali Murtadlo (Sunan Gisik) dan Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) serta saudara beda ibu dari Syaikh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri). Jadi Sayyidah Siti Zainab adalah bibi Sunan Giri.           

Sayyidah Siti Zainab binti Syaikh Ibrahim Asmaraqandi bin Syaikh Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad Shahibul Mirbad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Al Naqib bin Ali Ar Aridhi bin Ja'far As Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husein bin Ali Karamallahuwajhah, suami Fathimah binti Rasulullah SAW

Beliau dimakamkan bersebelahan dengan suaminya Syaikh Zainal Malik dan Mbah Buyut Payung
Lokasi : Jalan Kapten Darmo Sugondo III, Sidorukun, Gresik

Ditulis : Putri Balqis Syaifuddin